PANDEMI COVID-19 DAN SPIRIT BARU BERKELUARGA

 Euis Sunarti 

Guru Besar IPB Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan keluarga 

Pendiri GiGa (Penggiat Keluarga) Indonesia  Ketua Klaster Ketahanan Keluarga API (Asosiasi Profesor Indonesia) 

Krisis Keluarga 

Keluarga merupakan unit sosial tak tergantikan dan lokus utama kehidupan individusaat pandemi covid-19. Bahkan keluarga menjadi ujung tombak programpendidikanformal dan pemutusan penularan covid-19. Pandemi mengguncang kehidupankeluarga seiring diberlakukannya PSBB (pembatasan sosial berskala besar), danterjadinya penurunan pertumbuhan ekonomi, penambahan kemiskinandanpengangguran. Survey (Sunarti, 2020) menunjukkan terjadi perluasan kerentanandan krisis keluarga. Keluarga mengalami tekanan ekonomi, ketidaktahanan pangan, gejala stress dan gangguan kesejaheraan psikologis. Terdapat 53% keluarga yanghanya memiliki persediaan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga kurangdari 2 bulan, 78% menurunkan pengeluaran pangan, 76% kesejahteraanya menurun. Satu dari dua keluarga mengurangi pangan sumber protein, bahkan sudah terjadi pengurangan porsi makan (oleh 20% keluarga). Keluarga merasakan mudahsedihdan cemas, sulit konsentrasi, takut akan kematian diri sendiri dan kematian anggotakeluarga. Kondisi ini harus segera diatasi, untuk mencegah perluasan potensi dankejadian krisis keluarga. 

Krisis keluarga sejatinya dapat dicegah manakala keluarga mampu memprediksi kerentanan dan mengelola perubahan secara positif. Kegagalan interaksi suami istri selama lockdown di beberapa negara dilaporkan berujung pada peningkatankekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan perceraian. Campbell (2020)1 melaporkan selama pandemi terjadi peningkatan KDRT di China, Italia, Spanyol, demikian pula di Perancis (meningkat 30%), dan di Brazil (meningkat 40-50%). Lantasbagaimana di Indonesia ? Sampai bulan kedua pandemi, justru terjadi peningkatankasih sayang, kesabaran, interaksi suami istri, dan pengasuhan anak dalamkeluarga. Memang dilaporkan adanya kekerasan antar anggota keluarga, namun dalamprosentase yang sangat kecil (kurang dari 3% keluarga). Belum dilaporkan adanyapeningkatan perceraian di Indonesia, walau demikian pencegahan perlu dilakukan. Saat ini perceraian di Indonesia sudah cukup tinggi di Indonesia, yaitu rata-rata 1.170perceraian per hari. 

Investasi kelentingan keluarga 

Berita cara kematian akibat covid-19 meningkatkan kesadaran bahwa keluargasangat berharga dan harus dijaga. Ditengah tingginya kecemasan dan ketakutanyangdirasakan (terkena virus, kondisi ekonomi, masa depan, kematian), namun keyakinanbahwa pandemi merupakan ujian, membuat keluarga yakin dapat mengatasi 

1

beragam masalah. Sampai bulan kedua pandemi, survey menunjukkan keluargamemiliki kelentingan yang cukup tinggi. Keyakinan keluarga (harus) mampumengatasi masalah saat pandemi, merupakan faktor pelindung (protective factor) yang penting. Ketika pandemi direspon secara positif, bahkan keluarga memperolehbanyak hikmah. Keluarga bahkan melakukan reorientasi nilai dan tujuan hidup, refungsionalisasi, dan melejitkan kapasitas dan keberdayaannya. 

Anjuran “di rumah aja” sedianya dapat menjadi wahana berharga bagi keluargauntuk meningkatkan interaksi dan komunikasi, serta mengawal pencapaian prestasi perkembangan dan kematangan setiap individu. Hikmah hanya dapat diraihjikakeluarga memiliki kapasitas untuk menggalinya. Sayangnya, kapasitas tersebut tidakmuncul ketika tingkat kematangan suami istri belum optimal dan keterampilanhidupberkeluarga terbatas. Hal tersebut menunjukkan bahwa resiliensi sebagai ketahanankeluarga di masa pandemi, tidak dapat diperoleh secara tiba-tiba, melainkanhasil akumulasi investasi jangka panjang, bagaimana suami istri membangun keluargaberketahanan sejak pernikahan, bahkan jauh sebelumnya melalui kesiapan menikahdan berkeluarga. 

Pandemi jelas menyengsarakan dan membawa keterpurukan. Namun disisi lainmenyediakan kesempatan kepada keluarga memunculkan sisi positifnya. Hasil surveymenunjukkan tingginya religiusitas keluarga Indonesia, yang dalamtekanan ekonomi dan ketidakpastian tinggi, namun malah meningkatkan kemampuan memberi danberbagi. Keterpaparan informasi cara kematian akibat covid dan kenelangsaankeluarga yang mengalaminya, melejitkan kapasitas keluarga untuk berbuat baik. Duapertiga responden (diantaranya mengalami penurunan kesejahteraandanketidaktahanan pangan) justru meningkatkan shodaqoh saat pandemi. Hikmahberharga lain yang muncul adalah persepsi pentingnya keterampilan hidupberkeluarga, berharganya menjadi ibu rumah tangga, dan pentingnya peningkatanketerlibatan ayah dalam pengasuhan anak. 

Kuatkan dan Lindungi Fithrah Berkeluarga 

Semangat perlindungan dan kewaspadaan terhadap covid-19, menguatkan fithrahberkeluarga, yaitu menerima struktur hierarkis dan relasi harmonis. Terlebih lagi saat pandemi terjadi di Bulan Suci Ramadhan. Keluarga hirarkis menguat pada masa

pandemi, yaitu menerima laki-laki sebagai kepala keluarga dan menjadikan agamasebagai landasan keharmonisan interaksi keluarga. Hal tersebut sesuai denganlandasan filosofis dan landasan yuridis (Undang-Undang Perkawinan) yang mengatur bentuk keluarga hirarkis dan relasi harmonis, sehingga secara sosiologis telahmengakar dan kokoh diimplentasikan dalam kehidupan berkeluarga di Indonesia. Fithrah berkeluarga ini –walau tidak sama persis– di negara maju disebut “natural family”. Kelompok konservative (yang didorong kepatuhan terhadap ajaran gereja) menggunakan istilah “natural family” sebagai pengakuan pentingnya hirarki sebagai dasar pembagian dalam keluarga. Kelompok ini menolak intervensi ideologi dangerakan yang mengancam keluarga, seperti gerakan feminisme dan LGBTIQ. Parapenjaga benteng “natural family” secara berkala menyelenggarakan “World FamilyCongress” dilaksanakan bergiliran di berbagai negara.

Penguatan fithrah berkeluarga kala pandemi perlu ditindaklanjuti dengan penguatandan perlindungan keluarga hirarkis dan harmonis di Indonesia. Undang UndangPerkawinan yang menjadi landasan terbentuknya keluarga, perlu dipertahankandari upaya perubahan yang diagendakan gerakan feminis radikal. Demikian denganRancangan Undang Undang Ketahanan Keluarga, yang ternyata mendapat penolakandari kalangan liberal dan feminis radikal, perlu dikawal hingga disyahkan oleh DPR. 

Disisi lain, ternyata pandemi menguatkan rekomendasi penulis kepada pemerintahmengenai pentingnya pembangunan dan pekerjaan ramah keluarga. Pandemi membuktikan banyak pekerjaan ramah keluarga, yaitu pekerjaan dapat dilakukandari rumah (work from home) tanpa mengurangi produktivitasnya. Hal tersebut membawa semangat baru kepada penulis untuk advokasi kebijakan pembangunanramah keluarga, mendorong keluarga dijadikan sebagai basis kebijakan, danmendorong lingkup kebijakan yang holistik dan terpadu. Itulah spirit yang hendaknyatermaktub dalam Rancangan Undang Undang Ketahanan Keluarga sebagai instrumenlandasan pembangunan ketahanan keluarga Indonesia dalam menghadapi tantanganglobal dan perubahan jaman.

Campbell, A.M. (2020). An increasing risk of family violence during the Covid-19 pandemic: Strengthening community collaborations to save lives. Forensic Science Interantional: Reports, 2 http://doi.org/10.1016/j.fsir.2020.100089

Wujudkan Ketahanan Keluarga, Prof Euis Sunarti Dorong Lebih Banyak Pekerjaan Ramah Keluarga

Maraknya permasalahan keluarga terutama di tengah pandemi, satu diantaranya dapat disebabkan oleh faktor ekonomi. Mulai dari pekerjaan yang sulit hingga menurunnya pendapatan. Prof Euis Sunarti, Guru Besar IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia dengan bidang khusus Ketahanan Keluarga, dalam wawancaranya mengutarakan gagasannya yang dapat menjadi upaya mewujudkan ketahanan keluarga.

“Buku Orasi Guru Besar saya pada tahun 2015 dengan judul “Ketahanan Keluarga: Dari Kebijakan dan Penelitian Menuju Aksi”, menguraikan rangkaian penelitian terkait keluarga yang saya lakukan selama 17 tahun. Riset ini ternyata membangkitkan rekomendasi kebijakan penting bagi para pihak yang terlibat dalam pembangunan keluarga. Yaitu pentingnya membangun wilayah dan mendorong pekerjaan ramah keluarga,” terangnya.

Yang dimaksud Prof Euis dengan pembangunan Wilayah Ramah Keluarga yaitu upaya pembangunan yang dilakukan berbagai pihak di berbagai bidang, sejak penetapan kebijakan dan program, perencanaan dan pelaksanaanya mempertimbangkan keluarga. Pembangunannya juga menjadikan suatu wilayah memiliki kapasitas daya dukung alam dan daya tampung lingkungan yang tinggi serta sarana prasarana infrastruktur yang memungkinkan keluarga dapat memperoleh mata pencaharian yang mensejahterakan dan meningkatkan ketahanan keluarga. Sementara yang dimaksud dengan pekerjaan ramah keluarga adalah aktivitas pencarian nafkah, sebagai fungsi ekonomi keluarga, yang masih memungkinkan keluarga tetap memenuhi fungsi keluarga lainnya.

Dalam penjelasannya, Prof Euis menerangkan bahwa dalam membangun wilayah ramah keluarga dapat mencakup provinsi, kabupaten, kecamatan, maupun keluruhan/desa. Tujuannya agar tatanan keluarga dapat betah untuk tinggal, dalam keadaan sumber nafkah yang tidak jauh, akses kerja yang tidak perlu menghadapi macetnya transportasi.

“Ketidakefektifan waktu bekerja yang disertai waktu macet, secara tidak langsung berdampak pada fungsi mengasuh anak, fungsi cinta kasih, fungsi pendidikan dan fungsi perlindungan menjadi terabaikan. Hal ini karena kepala keluarga atau bahkan suami istri bekerja full time untuk satu fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi lain cenderung terabaikan,” ujarnya.

Gagasan Prof Euis ini merupakan hasil meta analisis bagaimana membangkitkan kebijakan yang ideal bagi keluarga agar berketahanan. “Ternyata, adanya pandemi ini, sebagai sesuatu yang tidak kita sukai, suatu yang tidak kita inginkan, mendatangkan juga berbagai kenelangsaan, gangguan kehidupan. Dari sini justru ada hikmah lain, yang itu saya bahas dalam buku tulisan saya yang berjudul Ketahanan Keluarga Di Masa COVID-19 yang dicetak oleh IPB Press,” tambah Prof Euis.

Hikmah tersebut yaitu banyaknya pekerjaan yang ramah keluarga, yaitu pekerjaan-pekerjaan yang tidak menghabiskan seluruh waktu keluarga untuk bekerja mencari nafkah. Pencari nafkah atau kepala keluarga masih punya sisa waktu yang memadai untuk fungsi pendidikan, fungsi bersosialisasi fungsi kontribusi di masyarakat dan sebagainya. Contohnya seperti webinar dari rumah dan rapat dari rumah. Dengan demikian, menurut Prof Euis, mindset yang harus diubah pada saat ini adalah bahwa bekerja itu tidak harus selalu di kantor. (SMH/Zul)

Published Date : 02-Apr-2021

Resource Person : Prof Dr Euis Sunarti

Keyword : IPB University, Fema, Ketahanan Keluarga, Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB

https://ipb.ac.id/news/index/2021/04/wujudkan-ketahanan-keluarga-prof-euis-sunarti-dorong-lebih-banyak-pekerjaan-ramah-keluarga/5d45b3ef4ca3c710572db1396633b583

MENGUATKAN KETAHANAN KELUARGA SAAT PANDEMI COVID 19

Euis Sunarti

#Guru Besar IPB Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB

#Ketua GIGA (Penggiat Keluarga Indonesia

#Ketua Klaster Ketahanan Keluarga API (Asosiasi Profesor Indonesia)

#Ketua Bidang Ketahanan Keluarga, DPP PUI (Dewan Pakar Pusat Persatuan Ummat Indonesia)

13 Tips Jadikan pandemic Covid 19 sebagai wahana berharga bagi keluarga untuk :

  1. Menyegarkan, memperbaharui, reorientasi nila, tujuan, makna dan kepatuhan menjalankan ajaran agama
  2. Meningkatkan fungsi agama dan pribadi yang religious ;ketaatan dan kepatuhan menjalankan ajaran agama
  3. Meningkatkan komunikasi dan interaksi dalam keluarga, mendorong eksp[resi saling peduli, menjaga dan melindungi keluarga agar tidak terpapar covid 19
  4. Mengatur ulang pengelolaan sumberdaya keluarga (waktu, finansial, pengetahuan, ketrampilan energy, perhatian ) disesuaikan dengan focus, tujuan keluarga selamat dari covid 19
  5. Memperbaiki keputusan-keputusan keluarga (jika diperlukan, memilih sumber informasi terpercaya tentanf covid 19 sebagai dasar perubahan keputusankeputusan dalam keluarga
  6. Iinternalisasi nilai dan ketrampilan hidup system keluarga, khususu nya kepada anak dan generasi muda
  7. Memeliharan dana tau meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh dan tetap produktif dimasa  work from home atau isolasi mandiri
  8. Memprediksi dan mengenali ekanan-tekanan dan masalah yang muncul, mengelolanya dan menanggulanginya secara bijaksana dan efektif
  9. Mengenali kerentanan dan potensi krisis keluarga dan mencegahnya supaya tidak menjadi krisis
  10. Berinvestasi dalam proses membangun kelentingan keluarga sebagai bagian dari upaya  meningkatkan kapasitas , menurunkan resiko kartena pandemic covid 19
  11. Meningkatkan kematangan kepribadian, memelihara, mengembangkan dan menguatkan konsep diri, sikap dan perilaku positif
  12. Berpartisipasi aktif dalam upaya pemutusan penyebaran covid 19, dan atau berkontribusi materi untuk membantu keluarga rentan dan pihak-pihak lain yang membutuhkan bantuan
  13. Memperluas lingkungan yang dapat menjadi asset perlindungan keluarga (protective factor), mencari dukungan materi dan sosial (dari keluarga luas, teman tetangga). Jika keluarga membutuhkan bantuan.

KELUARGA INDONESIA : RELIGIUS HARMONIS DAN HIRARKIES

Euis Sunarti

GIGA Indonesia

1.Tuhan ciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Siang -malam, pasang-surut, gelap-terang, jantan-betina, pria-wanita; masing-masing dengan fitrahnya yang unik, tidak menandakan superioritas tapi harmonis untuk menjaga kelestarian alam semesta dan peradaban manusia.

2.Tuhan ciptakan manusia dalam satu paket yang lengkap dan utuh sebagai wakil-Nya untuk mengelola bumi. Masing-masing memiliki karakter yang unik dan diberi peran yang berbeda sesuai dengan fitrah penciptaannya.

3. Pria dan wanita sama-sama memiliki hak dan tanggung jawab untuk saling tolong-menolong, mengajak berbuat kebajikan, mencegah kemungkaran, menegakkan kebenaran dan keadilan, serta mentaati aturan sang maha pencipta. Dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan, baik pria maupun wanita keduanya tunduk pada ketetapan-Nya karena hanya penciptanya-lah yang maha mengetahui bagaimana desain kehidupan yang terbaik untuk makhluknya.

4.Tuhan jaga kelestarian manusia dengan menjadikannya berketurunan melalui ikatan pernikahan. Tuhan memberkati pria dan wanita yang sudah berkomitmen untuk menjadi pasangan hidup karena membina keluarga itu merupakan perjuangan yang berat sepanjang hayat.

5. Pernikahan adalah pintu gerbang menuju kehidupan keluarga.  Aturan Tuhan menjadi landasan tertinggi dalam kehidupan termasuk kehidupan berkeluarga. Keluarga adalah unit terkecil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tiap-tiap negara dipimpin oleh seorang kepala negara. Demikian pula keluarga, dipimpin oleh seorang kepala keluarga. Tuhan amanatkan pimpinan keluarga kepada laki-laki. Dan semua anggota keluarga bersama-sama bertanggung jawab agar tercapainya kehidupan keluarga yang harmonis, produktif dan sejahter