KAMPUNG RAMAH KELUARGA : Konsep, Pengukuran dan Analisis Program

Prof.Dr.Ir.Euis Sunarti,M.Si

Kampung ramah keluarga adalah suatu wilayah terdekat dan terjangkau dalam interaksi kehidupan keluarga yang menyediakan lingkungan baik fisik (infrastruktur dasar) maupun non fisik (pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, budaya) yang menguatkan dan meningkatkan implementasi ketahanan keluarga (pemenuhan peran, fungsi dan tugas) untuk memperoleh kehidupan keluarga, lingkungan sosial dan alam yang berkualitas dan berkelanjutan.

Mendidik seorang anak bukan hanya kewajiban orang tua, namun juga tanggung jawab seluruh masyarakat desa. Seorang anak akan memiliki kemampuan terbaik sebagai manusia dewasa yang prima apabila seluruh masyarakat mengambil peran aktif dan berkontribusi dalam membesarkannya.

Mengapa perlu membangun kampung ramah keluarga?

Di era global sekarang ini, perubahan sosial ekonomi dan perkembangan teknologi informasi selain menyediakan kesempatan untuk maju juga diiringi tekanan dan ketidakpastian yang menuntut kemampuan antisipasi, kesiapan, respon, dinamika, dan adaptasi keluarga yang tinggi. Sementara itu keluarga pada umumnya memiliki keterbatasan dalam pengelolaan sumberdaya dan kerentanan yang dihadapi, padahal dukungan sosial yang diterima keluarga semakin menurun. Demikian halnya dengan penurunan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan sehingga semakin sulit memperoleh lingkungan fisik dan lingkungan sosial berkualitas. Hal tersebut membawa kepada kesadaran pentingnya membangun kampung ramah keluarga.

Apa landasan kerangka fikir dan strategi mengembangkan kampung ramah keluarga

Keluarga sebagai unit sosial terkecil, dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungannya. Perilaku individu yang tercermin dalam kehidupannya sehari- hari bukan hanya ditentukan oleh individu itu sendiri melainkan hasil dari sebuah sistem yang berlangsung di keluarga dan lingkungannya. Keluarga yang mempunyai nilai cinta kasih, hormat komitmen, tanggung jawab, kebersamaan akan mempunyai hubungan sosial yang harmonis, ikatan emosional yang kuat, sehingga terbentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan beradab dan pada akhirnya terwujudlah ketertiban dan kesejahteraan.

Keluarga merupakan sistem yang melakukan transformasi energi dan membutuhkan energi tertentu untuk pemeliharaan dan keberlangsungannya, untuk adaptasi dan berinteraksi dengan sistem lain, juga untuk melakukan beragam fungsi kreatif. Dalam perspektif ekologi keluarga, bentuk ekosistem keluarga mencakup interaksi keluarga dengan lingkungannya yakni lingkungan yang dibangun manusia, lingkungan sosial-budaya, dan lingkungan alam. Output dari ekosistem keluarga adalah satu paket yang tidak boleh dipisahkan yaitu transaksi kehidupan keluarga dan lingkungan (alam dan sosial) dari dan menimbulkan perilaku dan dampak baik positif maupun negatif yang kemudian dapat menggambarkan bagaimana kualitas kehidupan keluarga dan lingkungannya. Misalnya bila keluarga melakukan transaksi dengan lingkungannya secara positif yaitu berperilaku empati, harmonis, tenggang rasa, toleransi maka akan mendapatkan dukungan sosial, adanya perdamaian, saling menghargai dan mengasihi. Sebaliknya bila transaksi dengan lingkungannya negative yaitu berperilaku cuek, abai, tidak sensitive maka keluarga akan terkucilkan, terabaikan, adanya diskriminasi, marginalisasi, pertikaian. Sedangkan bila keluarga melakukan transaksi dengan lingkungan alam secara positif yaitu hemat, melakukan konservasi, reboisasi, recycling maka akan tercipta keluarga yang aman, sejahtera, sehat. Bila keluarga melakukan transaksi dengan lingkungan alam secara negative  yaitu melakukan eksploitasi, boros, rakus, profit oriented maka akan timbul ketidak seimbangan alam seperti kelangkaan energy, kekeringan, bencana alam, kelaparan.

Pembelajaran dari Gerakan Kebaikan Keluarga Indonesia.

Gerakan Kebaikan Keluarga Indonesia (GKKI) yang diusung Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia merupakan contoh bagaimana keluarga membangun lingkungannya, memperluas nuansa dan nilai keluarga dan kekeluargaan pada lingkungan yang lebih luas. Gerakan tersebut dilatarbelakngi oleh semakin dirasakan merebaknya sikap ketidakpedulian, menurunnya empati terhadap sesama dan melunturnya semangat berbagi dalam kehidupan individu, keluarga dan masyarakat. GKKI ini mengusung 4 pilar kebaikan keluarga yaitu

1.Membangun Keluarga Tangguh : Memenuhi fungsi dan tugas keluarga, mencetag SDM yang berkualitas.

2.Membangun masyarakat madani : Berpartisipasi aktif terlibat membangun pertetangaan dan kegiatan masyarakat.

3.Membangun keluarga sebagai basis kebijakan public :Berpartisipasi dalm program pembangunan keluarga, mendorong dan advokasi kebijakan ramah keluarga.

3.Membangun alam lestari berkelanjutan : Konsumsi secara bijak, konservasi dan pelestarian alam.

Model Generik Pembangunan Wilayah Ramah Keluarga

Model kampung ramah keluarga dihasilkan berbagai data fisik kewilayahan, demografi penduduk dan keluarga, persepsi risiko dan aspek sosial kelembagaan yang dianalisis melalui analisis gap ciri-ciri wilayah ramah keluarga, analisis potensi pelaku dan mekanisme, dan analisis SWOT sehingga diperoleh rekomendasi aksi bagaimana membangun lingkungan yang ramah keluarga.

Keberhasilan pembangunan salah satunya ditunjukkan oleh kesejahteraan dan kualitas keluarga, sebagai output dan outcome dari ketahanan keluarga. Kualitas keluarga merupakan bagian dari kualitas lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan social. Oleh karenanya pembangunan keluarga hendaknya memperhatikan transaksi keluarga dengan lingkungannya, dalam pembangunan berbasis kewilayahan yang mensejahterakan atau yang ramah keluarga.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *